kunto h baiquni

independent it consultant

Disclaimer:
All postings are provided "AS IS" with no warranties, and confer no rights.
This weblog does not represent the thoughts, intentions, plans or strategies of Microsoft.
Because a weblog is intended to provide a semi-permanent point-in-time snapshot,
therefor you should not consider outdated posts to reflect current thoughts and opinions. 
  • Dynamic Data Center - Advanced Workshop 2

    Senin dan Selasa, 22 dan 23 November 2010, Microsoft Indonesia mengadakan sebuah Advanced Workshop dengan tema Dynamic Data Center, adalah teknologi paling mutakhir dari Microsoft untuk mendukung segala aspek yang diperlukan oleh sebuah Data Center moderen.

    Dalam 2 hari tersebut, 26 peserta telah melakukan 5 hands-on lab yang sangat lengkap dengan satu tujuan, yaitu membangun sebuah Data Center yang dinamis, efisien, hemat enerji, murah, aman, dan mudah dioperasikan.

    Terima kasih kepada 26 peserta yang telah memberikan komitmennya untuk mengikuti Workshop selama 2 hari berturut-turut dan kepada Microsoft Indonesia yang telah memberikan kepercayaannya kepada saya sebagai pembicara.

    Share this post: | | | |
  • 25 Tahun Windows

    20 November 1985, untuk pertama kalinya Microsoft meluncurkan produk Windows ke Pasar, yaitu Windows 1.0. Tak seorangpun, pada saat itu tahu, bahwa Windows akan menjadi Sistem Operasi yang paling sukses dalam sejarah global dunia industri TI.

    25 Years Windows

    Angka penjualan Windows 1.0 - 2.0 di waktu itu sangat buruk, karena harganya relativ mahal, hal ini berubah dengan drastis di tahun 1988 setelah Microsoft merilis Windows 2.03 sebagai add-on gratis untuk setiap pembelian Sistem Operasi MS DOS. Sejak saat itu penjualan Windows semakin marak hingga mampu mengantar Bill Gates menjadi orang terkaya di dunia setelah merilis Windows 3.0 pada 22 Mei 1990.

    Share this post: | | | |
  • Installing Lync Server 2010 - Part 1

    Installing Lync Server 2010 - Part 2

    Installing Lync Server 2010 - Part 3

    Installing Lync Server 2010 - Part 4

    Office Communication Server (OCS) sudah barang tentu kita semua kenal. Microsoft baru-baru ini secara resmi telah merubah namanya menjadi Lync Server. Microsoft Office Communications berubah menjadi Microsoft Lync.

    Untuk lebih jelasnya, silahkan dilihat pada tabel berikut:

    Product

    2007 Release

    2010 Release

    Familiy

    Microsoft Office Communications

    Microsoft Lync

    Server

    Microsoft Office Communications Server 2007 R2

    Microsoft Lync Server 2010

    Client

    Microsoft Office Communicator 2007 R2

    Microsoft Lync 2010

    Service

    Microsoft Office Communications Online

    Microsoft Lync Online

    Web Client

    Microsoft Office Communicator Web Access

    Microsoft Lync Web App

    Pada dasarnya, instalasi tunggal (single) dari sebuah Lync Server 2010 Standard Edition mencakup 5 tahap, yaitu:

    1. Instalasi komponen pendukung (prerequisites) yang mencakup:

    • Sistem Operasi Windows Server 2008 R2 di semua Server.
    • Sistem Operasi Windows 7 x86 di semua Client.
    • .Net 3.5 SP1 di semua Server.
    • Microsoft Silverlight browser plug-in di Standard Edition Server.
    • Fitur Active Directory Administration Tools di Standard Edition Server.
    • Domain Controller adalah Server yang dibangun di atas Windows Server 2008 R2 yang dikonfigurasi sebagai Domain Controller, DNS Server, dan Certification Authority (CA).
    • Standard Edition Server dibangun dengan Windows Server 2008 R2 adalah Server di mana kita akan melakukan instalasi Lync Server 2010.
    • Dua Client Computer masing-masing dibangun dengan Windows 7 x86 dan Lync 2010 sebagai client untuk keperluan testing.
    • Untuk keperluan logon, credential yang digunakan adalah COMPUTER\Administrator dan DOMAIN\Administrator setelah join ke domain, sedangkan password yang digunakan adalah Passw0rd (angka 0 bukan huruf O).
    • Semua Server dan Client dibangun dengan Virtual Machine (VM) di atas Windows Server 2008 R2 Hyper-V.

    Adapun topologi yang dipilih untuk melakukan percobaan ini adalah sebagai berikut:

    Topology

    Sedangkan konfigurasi dan role dari masing-masing Server dan Client dapat disalin dari tabel di bawah ini:

    Role

    FQDN

    IP Address

    Domain Controller

    dc01.kunto.local

    192.168.252.20

    Standard Edition Server

    lync2010.kunto.local

    192.168.252.70

    Client 1

    lc01.kunto.local

    192.168.252.71

    Client 2

    lc02.kunto.local

    192.168.252.72

    Untuk mempersingkat, kita mulai melakukan deployment topologi dengan mengikuti langkah-langkah dan bantuan screenshots berikut.

    Setelah instalasi Sistem Operasi pada kedua Server dan kedua Client selesai, lanjutkan dengan Setup dan konfigurasi Domain Controller, DNS Server dan Certification Authority (CA).

    Kemudian join Standard Edition Server (LYNC2010) dan kedua Client ke Domain.

    Setelah Standard Edition Server dan kedua Client join ke Domain, logon dengan mempergunakan credential DOMAIN\Administrator.

    2. Mempersiapan lingkungan:

    Sebelum melakukan deployment, kita harus memastikan bahwa seluruh persyaratan yang dibutuhkan oleh Lync Server 2010 sudah terpenuhi.

    Bagian berikutnya adalah melakukan instalasi IIS (Web Server) pada Standard Edition Server dengan mengikuti screenshots berikut:

    Kemudian kita lanjutkan dengan instalasi Active Directory Administrative Tools:

    Selanjutnya adalah instalasi SQL Server Native Client:

    Lanjutkan konfigurasi DNS Server pada Domain Controller dengan informasi yang ada pada tabel berikut:

    Keterangan

    FQDN

    IP Address

    Dial-in URL

    dialin.kunto.local

    192.168.252.70

    Meeting URL

    meet.kunto.local

    192.168.252.70

    Administration URL

    admin.kunto.local

    192.168.252.70

    DNS SRV record

    _sipinternaltls

    Port Number: 5061

    Protocol: _tcp

    FQDN: lync2010.kunto.local.

    dan screenshots berikut:

    Setelah persiapan DNS selesai, lanjutkan dengan membuat File Share pada Standard Edition Server:

    Sementara masih logon di dalam Standard Edition Server, lanjutkan dengan menjalankan setup Lync Server 2010 dengan cara berikut:

    Lanjutkan dengan tahap berikut ini untuk mempersiapkan Active Directory, dimulai dengan menjalankan Schema Prep, lanjutkan dengan menjalankan Forest Prep, akhiri dengan menjalankan Domain Prep:

    Setelah selesai dengan mempersiapkan Active Directory di atas, teruskan dengan melakukan update Security Group Membership supaya user DOMAIN\Administrator dapat melakukan instalasi/deployment Lync Server:

    Bersambung ke Part 2 dengan membuat dan menerbitkan topologi.

    Share this post: | | | |
  • Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 4

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 1

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 2

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 3

    Tiga Weblog sebelumnya yang telah memandu kita menuju jenjang High Availability sudah selesai ditulis. Bagian terakhir dari rangkaian penulisan Weblog ini akan memandu kita dalam melakukan instalasi sebuah instan SQL Server yang mampu melakukan Failover di atas Cluster yang High Available.

    Prasyarat untuk dapat melakukan instalasi instan SQL Server di atas Cluster yang menjadi anggota (member) dari Active Directory Domain Controller (AD DC) adalah membuat sebuah Service Account pada AD DC.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Active Directory Domain Controller (AD01) untuk membuat sebuah Service Account dengan informasi berikut, user logon name: SQL_Service dan password: Passw0rd (angka nol).

    Setelah Service Account dibuat pada AD DC, Service Account tersebut harus dibuat menjadi anggota dari Local Administrators Group pada masing-masing Cluster Node.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah konfigurasi Service Account selesai, kita lanjutkan dengan membuat sebuah Firewall Exception Rule untuk TCP port 1433 pada masing-masing Cluster Node, supaya instan SQL Server kita dapat diakses dan digunakan melalui jaringan TCP/IP.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Selesai dengan melakukan konfigurasi Firewall, kita lanjutkan dengan membuat iSCSI Target untuk instan SQL Server kita pada Cluster Storage (SS01).

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Storage (SS01) kemudian ikutilah screenshots berikut ini untuk membuat iSCSI Target instan SQL Server (MSSQL).

    Setelah iSCSI Target instan SQL Server (MSSQL) selesai dibuat, kita lanjutkan dengan malakukan konfigurasi iSCSI Initiator pada masing-masing Cluster Node dengan langkah-langkah berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai dengan melakukan konfigurasi iSCSI Initiator, kita lanjutkan dengan membuat partisi dan melakukan format filesystem tipe NTFS pada iSCSI Target MSSQL pada Cluster Node 1 (CL01).

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai membuat partisi, melakukan format dan memberi drive letter, tibalah saatnya untuk menambahkannya ke dalam Cluster sebagai Cluster Storage Disk dengan cara seperti berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai menambahkan MSSQL Disk ke dalam Cluster sebagai Cluster Storage, kita lanjutkan dengan melakukan instalasi instan SQL Server ke dalam Cluster sebagai Service yang High Available dengan cara berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai dengan instalasi pada kedua Cluster Node, marilah kita coba lakukan failover dari Cluster Node 1 (CL01) ke Cluster Node 2 (CL02).

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Dengan demikian kita sudah berhasil melakukan instalasi sebuah instan SQL Server di atas Cluster yang High Available dan mampu melakukan Failover dari Cluster Node 1 ke Cluster Node 2.

    Sebagai penutup saya ucapkan selamat mencoba semoga berguna dan bermanfaat bagi kita semua.

    Share this post: | | | |
  • Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 3

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 1

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 2

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 4

    Setelah membaca kedua Weblog di atas (Part 1 & Part 2), kemudian timbul pertanyaan di dalam benak kita, keuntungan apa saja yang akan diperoleh dengan melakukan Clustering? Weblog ini akan mencoba menjawab pertanyaan itu dengan membangun layanan/service di atas Cluster, sehingga layanan/service tersebut menjadi High Available, singkatnya hampir tidak pernah mati, no down time.

    Dengan melakukan Clustering layanan/service yang kita bangun di atasnya akan menjadi High Available dan bahkan mempermudah dalam melakukan maintenance, karena layanan/service yang berjalan di atas Cluster dapat dipindah ke Cluster Node yang aktiv, membuat Cluster Node yang pasiv bisa dimatikan untuk melakukan maintenance pada perangkat keras maupun lunak.

    Pertama-tama kita buat sebuah layanan/service standard yang sudah tersedia di Windows Server menjadi High Available, kandidat yang sangat cocok untuk ini adalah Distributed Transaction Coordinator (DTC), karena diperlukan untuk membangun SQL Server Cluster.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Storage (SS01) kemudian ikuti screenshots berikut ini guna membuat iSCSI Target untuk DTC.

    Selesai membuat iSCSI Target untuk DTC, kita lanjutkan dengan konfigurasi iSCSI Initiator pada masing-masing Cluster Node dengan cara berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai dengan konfigurasi di atas lanjutkan dengan membuat partisi dan melakukan format dengan filesystem NTFS di dalamnya.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 2, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah selesai membuat partisi, format dan memberi drive letter, sekarang tiba saatnya untuk menambahkannya ke dalam Cluster sebagai Cluster Storage Disk dengan cara seperti berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Setelah menambahkan Cluster Storage Disk ke dalam Cluster, kita lakukan instalasi Distributed Transaction Coordinator (DTC) ke dalam Cluster sebagai Service yang High Available dengan cara berikut ini.

    Sebagai Domain Administrator, logon ke dalam Cluster Node 1, kemudian ikuti screenshots berikut.

    Dengan demikian kita sudah berhasil menyelesaikan instalasi sebuah layanan/service yang High Available di atas Cluster, dalam hal ini adalah Distributed Transaction Coordinator (DTC).

    Bersambung ke Part 4 yang akan menunjukkan bagaimana caranya membangun sebuah instan SQL Server di atas Cluster yang High Available.

    Share this post: | | | |
  • Dynamic Data Center - Advanced Workshop

    Senin dan Selasa, 25 dan 26 Oktober 2010 yang baru lalu, Microsoft Indonesia mengadakan sebuah Advanced Workshop dengan tema Dynamic Data Center dengan Narenda Wicaksono sebagai pembicara.

    Adapun agenda dari Advanced Workshop tersebut adalah sebagai berikut:

    Day 1

    • Virtualization 360 Overview
    • Lab: Working with MAP Toolkit
    • Hyper-V Architecture and Implementation
    • High Availability
    • Lab: Setup a 2-Node Hyper-V Cluster
    • System Center Virtual Machine Manager (SCVMM)

    Day 2

    • System Center Operations Manager (SCOM)
    • Lab: Setup SCVMM, SCOM, and Pro-Pack
    • System Center Data Protection Manager (SCDPM)
    • Lab: Setup SCDPM and Backup Virtual Machines
    • Architecture Considerations and Best Practices
    • Virtual Machine Manager Self Service Portal (VMMSSP)
    • Lab: Deploy, Configure, and use VMMSSP

    Masing-masing peserta dibekali sebuah Host yang memiliki 8 GB RAM,  Xeon 5160, dan sebuah Storage Area Network (iSCSI). Dalam waktu yang relativ singkat kami telah menyelesaikan 5 (lima) Hands-on Labs yang secara detail telah mampu membawa kami kepada pengertian yang sangat mendalam akan konsep dan pengertian serta pentingnya Dynamic Data Center pada masa-masa yang akan datang terutama dalam menunjang Infrastruktur Cloud Computing.

    Berikut adalah tautan dari situs resmi Microsoft untuk Dynamic Data Center:

    Microsoft Dynamic Data Center

    Tak lupa kami ucapkan banyak terima kasih untuk event tersebut di atas.

    Share this post: | | | |
  • Windows 7 and Windows Server 2008 R2 SP1 RC

    Hari ini divisi Windows Server telah merilis Windows 7 dan Windows Server 2008 R2 Service Pack 1 Release Candidate (RC). Release Candidate adalah versi terakhir dari public beta yang dapat diunduh sebelum Release to Manufacturing (RTM) yang  akan dirilis pada kuartal I tahun 2011.

    Seperti sudah dijelaskan pada weblog sebelumnya, fitur-fitur tambahan yang ada pada SP1 hanya berkisar pada teknologi virtualisasi Windows Server 2008 R2 saja, yaitu Dynamic Memory dan RemoteFX, untuk lebih jelasnya silahkan membaca Weblog dari Windows Server Division.

    Service Pack 1 Release Candidate dapat diunduh dari tautan berikut ini:

    http://www.microsoft.com/windowsserver2008/en/us/sp1.aspx 

    Selamat mencoba semoga bermanfaat bagi kita semua.

    Share this post: | | | |
  • Happy Birthday Windows 7

    Hari ini, 1 Tahun silam, adalah hari lahirnya Windows 7 yang ditandai dengan penjualan Windows 7 kepada publik secara resmi. Hingga saat ini sudah 240 Juta lisensi Windows 7 yang terjual.

    Tepat pada hari ini, Microsoft secara resmi menghentikan penjualan Windows Vista dan Windows XP. Meskipun demikian dukungan terhadap XP akan berjalan hingga 2014 dan Vista sampai dengan 2012, sedangkan untuk edisi Business dan Enterprise hingga 2017.blue

    Share this post: | | | |
  • Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 2

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 1

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 3

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 4

    Jika Weblog sebelumnya sudah membahas iSCSI dan memberikan panduan untuk mempersiapkan sebuah Cluster pada Windows Server 2008 R2, setelah melalui konfigurasi yang cukup panjang, sekarang tibalah saatnya untuk membangun Cluster yang sebenarnya.

    Sedikit tambahan informasi, membangun Cluster dengan Windows Server, sebaiknya dilakukan di dalam satu jaringan yang memiliki Active Directory Domain Controller seperti pada diagram berikut ini:

    Clustering Windows Server 2008 R2 - 2

    Setelah logon ke dalam Cluster Node 1 (CL01) sebagai Administrator, yang pertama-tama harus kita kerjakan adalah melakukan konfigurasi iSCSI Initiator supaya terhubung ke iSCSI Sofware Target yang berada di dalam Cluster Storage:

    Lakukan hal yang serupa pada Cluster Node 2 (CL02) seperti pada screenshots berikut ini:

    Masih dari dalam Cluster Node 2 (CL02), sebelum Cluster Quorum Disc (Cluster Witness Disc) dapat dimanfaatkan oleh Cluster, harus dibuat sebuah partisi, kemudian di format dan akhirnya di assign sebuah drive letter terlebih dahulu, seperti pada screenshots berikut ini:

    Sebelum melakukan hal yang serupa pada Cluster Node 1 (CL01), Cluster Quorum Disc harus dibuat Offline terlebih dahulu dengan melakukan hal berikut ini pada Cluster Node 2 (CL02):

    Setelah Cluster Quorum Disc dibuat Offline pada Cluster Node 2 (CL02), lakukan hal-hal berikut ini pada Cluster Node 1 (CL01) seperti pada screenshots:

    Selanjutnya adalah mempersiapkan Cluster Nodes kita dengan melakukan instalasi fitur Failover Clustering pada masing-masing Cluster Node dengan cara seperti pada screenshots berikut ini:

    Untuk memastikan bahwa semua persiapan sudah lengkap dan benar, kita harus melakukan validasi terhadap konfigurasi Cluster, lakukan hal ini dari salah satu Cluster Node (dari CL01) dengan cara seperti pada screenshots berikut ini:

    Setelah memastikan bahwa Cluster Validation Report tidak mengandung error, lanjutkan dengan membuat Cluster dari salah satu Cluster Node (dari CL01) seperti pada screenshots berikut ini:

    Pastikan tidak ada error pada Create Cluster Report, jika semua berjalan dengan baik dan benar, akan kita dapati sebuat Cluster Manager seperti berikut ini:

    Bersambung ke Part 3 dengan membangun Layanan (Services) di atas Cluster kita. Selamat berkarya dan mencoba semoga bermanfaat.

    Share this post: | | | |
  • Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 1

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 2

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 3

    Clustering Windows Server 2008 R2 - Part 4

    Menyikapi kebutuhan bisnis akhir-akhir ini yang semakin hari semakin kritis, terutama dalam hal Service Level Agreement (SLA), diperlukan sebuah strategi yang jitu dan matang. Dalam rangkaian Weblog ini akan diketengahkan tehnik yang dipakai untuk mempersiapkan dan melakukan setup sebuah Cluster yang dibangun di atas teknologi Windows Server 2008 R2 atau Windows Server 2008 dengan bantuan iSCSI Software Target dan iSCSI Initiator dari Microsoft.

    iSCSI adalah singkatan dari Internet SCSI, sebuah standard yang digunakan untuk menghubungkan fasilitas penyimpan data (storage facility) yang berbasis IP. Karena perintah-perintah SCSI dikirim melalui jaringan IP, iSCSI dapat digunakan untuk memfasilitasi pengiriman data melalui intranet dan melakukan manajemen terhadap alat penyimpan data (storage) dari jarak jauh. Protokol iSCSI memungkinkan Client (disebut sebagai Initiator), mengirim perintah-perintah SCSI kepada alat penyimpan data/storage (disebut sebagai Target). Adalah protokol yang lazim digunakan oleh Storage Area Network (SAN). Memberi kemudahan dalam melakukan konsolidasi alat penyimpan data ke dalam satu Central Storage Array yang mana kemudian memberikan layanannya dalam bentuk tempat untuk menyimpan data kepada Server-Server di dalam Data Center yang seolah-olah adalah Hard Disc lokal yang berada di dalam masing-masing Server tersebut.

    Panduan ini dapat diterapkan pada sistem operasi Windows Server 2008 atau Windows Server 2008 R2 dan hanya pada edisi Enterprise atau Datacenter saja. Demi keseragaman, di sini kita gunakan sistem operasi Windows Server 2008 R2.

    Berikut adalah diagram dan tabel dari Cluster yang akan kita bangun:

    Clustering Windows Server 2008 R2

    Untuk membangun Cluster seperti di atas, diperlukan:

    1. Microsoft Windows Server 2008 x64 atau Windows Server 2008 R2.
    2. Microsoft iSCSI Software Target versi 3.2 atau 3.3.

    Setelah keduanya kita unduh, lalu kita lakukan instalasi sistem operasi pada server Cluster Node 1, Cluster Node 2, dan Cluster Storage. Selesai dengan instalasi sistem operasi kita lanjutkan dengan konfigurasi IP pada setiap server yang masing-masing memiliki 3 ethernet card (NIC), kecuali Cluster Storage sesuai dengan tabel di atas, kemudian menghubungkannya ke switch seperti diagram di atas. Panduan ini dibuat dengan bantuan Virtual Machine yang berjalan di atas Hyper-V Host, namun demikian untuk instalasi yang sesungguhnya diperlukan 3 ethernet card pada setiap server dan 2 buah switch, kecuali Cluster Storage yang hanya membutuhkan 2 ethernet card. Berikut ini adalah screenshots dari konfigurasi ketiga NIC pada Cluster Node 1:

    Setelah konfigurasi ethernet card (NIC) selesai, kita lanjutkan dengan instalasi iSCSI Software Target pada Cluster Storage. Pada saat melakukan instalasi iSCSI Software Target, akan tampil sebuah pesan seperti berikut ini:

    20101014_031214

    Hal ini terjadi karena kita melalukan instalasi iSCSI Software Target pada sistem operasi yang tidak didukung, meskipun demikian untuk keperluan development atau eksperimen, sebuah ‘workaround’ yang TIDAK didukung dan TIDAK disarankan untuk dilakukan pada mesin-mesin produksi dapat kita lakukan. Sekali lagi JANGAN sekali-kali melakukan hal ini untuk kepentingan produksi.

    Dengan bantuan orca atau superorca workaround dilakukan dengan membuka berkas instalasi yang sebelumnya telah kita copy terlebih dahulu dari berkas yang asli, yang terdapat di dalam folder x64, kemudian lakukan aksi ‘Drop Row’ pada Tabel LaunchCondition, setelah itu berkas kita simpan dengan nama lain seperti pada screenshots di bawah:

    Setelah workaround dilakukan, instalasi iSCSI Software Target akan berjalan dengan mulus seperti pada screenshots berikut:

    Kemudian kita lanjutkan dengan melakukan konfigurasi iSCSI Software Target pada Cluster Storage supaya iSCSI service hanya berjalan dan dapat diakses melalui Storage Network saja seperti gambar berikut:

    Layanan iSCSI Target pada dasarnya menunggu perintah pada TCP port 3260, oleh karena itu kita harus membuat sebuah firewall rule yang memperbolehkan TCP port 3260 untuk diakses oleh Cluster Node kita. Lakukan hal berikut ini untuk membuat rule tersebut pada Cluster Storage firewall:

    Berikutnya adalah mempersiapkan sebuah Target pada Cluster Storage kita yang nantinya akan digunakan oleh Cluster sebagai Cluster Witness Disc atau lazim disebut sebagai Cluster Quorum, adalah bagian yang terpenting dalam membangun sebuah Cluster. Menurut rekomendasi, kapasitasnya tidak kurang dari 50 MB dan sebaiknya dibuat 500 MB atau lebih guna mengantisipasi kebutuhan dimasa yang akan datang. Ikuti caranya dari screenshots berikut ini:

    Setelah Target selesai dibuat, kita harus membuat Virtual Disc untuk Target tersebut, karena Target hanya bersifat sebagai Container saja dengan bantuan screenshots ini:

    Dilanjutkan ke Part 2 dengan konfigurasi Cluster Node.

    Share this post: | | | |
  • Test drive Dynamic Memory on Windows Server 2008 R2 SP1 Beta - Part 2

    Test drive Dynamic Memory on Windows Server 2008 R2 SP1 Beta – Part 1

    Melanjutkan weblog sebelumnya yang sudah mengulas Dynamic Memory, sekarang tibalah saatnya untuk menguji coba kebolehannya. Bagaimana caranya supaya Memory pada Hyper-V Host yang jumlahnya terbatas dapat digunakan semaksimal mungkin, akan kita bahas di sini dengan bantuan 10 VM dan screenshots.

    Setelah Dynamic Memory kita aktivkan pada VM dengan membuka Settings pada Hyper-V Management Console –> Memory –> pilih Dynamic, kemudian OK, lalu kita Start VM tersebut, setelah login ke dalam VM, kemudian membuka Device Manager dari Control Panel, akan kita dapati sebuah device baru yang tidak dikenal (unknown device) seperti pada screenshots berikut:

    Pada dasarnya, Sistem Operasi di dalam VM tidak tahu menahu tentang Dynamic Memory. Untuk dapat memanfaatkannya, kita harus melakukan instalasi atau aktualisasi (upgrade) terhadap Integration Services pada VM tersebut. Setelah instalasi Integration Services selesai dan VM sudah melakukan restart, Dynamic Memory akan dikenal oleh Sistem Operasi sebagai sebuah System Device yaitu Virtual Dynamic Memory.

    Setelah mencari kesana kemari akhirnya ditemukan sebuah aplikasi yang cocok dipakai untuk membebani VM, yaitu Prime95, adalah aplikasi untuk menemukan bilangan prima, memiliki fitur stress test yang sangat kita perlukan dalam melakukan uji coba Dynamic Memory. Hyper-V Host memiliki memory 8 GB dan sebuah processor Core 2 Quad (Q6600). Dengan berbekal 10 VM masing-masing berisi Sistem Operasi Windows 7 32-bit dan memory 512 MB serta aplikasi Prime95 dimulailah dengan melakukan uji coba.

    Karena jumlah dan kecepatan hard disc pada Hyper-V Host yang terbatas, ke 10 VM akan dihidupkan (start) dalam 2 tahap. Pada saat 10 VM tersebut sudah berjalan (running), Taskmanager dan Hyper-V Management Console pada Hyper-V Host akan tampak seperti ini:

    Kemudian aplikasi Prime95 dijalankan pada 10 VM secara bertahap. Setelah beberapa saat, Taskmanager dan Hyper-V Management Console pada Hyper-V Host akan terlihat seperti pada sreenshots berikut ini:

    Jika kita bandingkan kedua album screenshots di atas, di bawah kolom Memory Available pada Hyper-V Management Console, pada saat 10 VM sudah berjalan terlihat angka-angka positiv 24% – 40%, namun pada saat aplikasi Prime95 sudah berjalan terlihat angka-angka negativ 30% – 110%. Hal ini terjadi karena aplikasi Prime95 yang berjalan di masing-masing VM membutuhkan memory lebih besar dari yang tersedia, untuk dapat memenuhi kebutuhan yang lebih besar tersebut, di dalam masing-masing VM terjadi swapping, yaitu sebagian memory pages yang tidak sedang digunakan oleh VM akan disimpan ke hard disc sebagai pagefile, hal ini juga lazim dikenal dengan sebutan memory paging.

    Sebagai penutup dari tulisan ini adalah sreenshot dari 10 VM yang sedang berjalan. Semoga tulisan ini bermanfaat dan selamat mencoba Service Pack 1 Beta untuk Windows 7 dan Windows Server 2008 R2.

    Share this post: | | | |
  • Infrastructure Planning and Design - 30 Aug 2010

    Microsoft pada 30 Agustus 2010 yang baru lalu telah merilis versi terbaru dari seri Infrastructure Planning and Design (IPD) guide yang secara pasti akan menggantikan Windows Server System Reference Architecture atau lazim disebut dengan WSSRA.

    Infrastructure Planning and Design (IPD) adalah serial panduan yang disusun dari dokumen-dokumen yang jika diikuti dengan seksama dan benar akan membantu kita mengambil keputusan-keputusan dalam melakukan disain infrastruktur yang dapat memenuhi kriteria bisnis dan penyandang dana infrastruktur.

    IPD guide dapat diunduh dari situs Technet berikut:

    Download the Infrastructure Planning and Design Guide Series.

    Share this post: | | | |
  • Test drive Dynamic Memory on Windows Server 2008 R2 SP1 Beta - Part 1

    Test drive Dynamic Memory on Windows Server 2008 R2 SP1 Beta – Part 2

    Dynamic memory adalah fitur baru pada Hyper-V di Windows Server 2008 R2 dan memungkinkan kita melakukan pooling seluruh memory yang ada/tersedia pada physical host dan kemudian secara dinamis membagi-bagikannya kepada virtual machines yang berjalan pada host sesuai dengan beban kerja. Singkatnya, Virtual Machines yang sedang berjalan bisa mendapatkan alokasi memory tambahan/pengurangan sesuai dengan beban kerja tanpa harus melakukan restart. Untuk lengkapnya silahkan baca di sini. 

    Demi memuaskan rasa ingin tahu, pada akhirnya diambil keputusan untuk melakukan instalasi SP1 public beta pada Server Lab. Secara singkat dengan bantuan screenshots akan dijelaskan bagaimana cara memanfaatkan fitur Dynamic Memory tersebut:

    20100820_193751

    System Property setelah instalasi SP1 public beta pada Windows Server 2008 R2.

     

    Memory_2_20100820_192647

    Memory Settings pada VM sebelum instalasi SP1 public beta. 

     

    Memory_static_2_20100820_194020

    Memory Settings pada VM setelah instalasi SP1 public beta.

     

    Memory_dynamic_1_20100820_194113

    Memilih Dynamic membuat kita dapat melakukan pengaturan terhadap Startup RAM adalah jumlah memory minimum yang harus dialokasikan kepada VM pada saat start, sedangkan Maximum RAM adalah jumlah memory maksimum yang dapat dialokasikan pada VM sesuai dengan beban kerja dan ketersediaan memory pada host.

     

    Memory_dynamic_2_20100820_194113

    Buffer adalah memory yang akan diusahakan ketersediannya oleh Hyper-V kepada VM sesuai dengan beban kerja sebagai cadangan dalam persen terhadap jumlah memory maksimum yang sedang dialokasikan kepada VM tersebut.

     

    Memory_priority_20100820_194113

    Memory priority mempengaruhi prioritas alokasi memory kepada VM. Di saat host sedang mengalami beban puncak, VM dengan prioritas memory yang rendah, ada kemungkinan tidak dapat dijalankan/distart karena tidak diberi alokasi memory oleh host.

    Share this post: | | | |
  • Windows Server 2008 R2 and Windows 7 SP1 Beta

    Melanjutkan Weblog sebelumnya, Windows Server 2008 R2 and Windows 7 Service Pack 1, pada awal bulan Juli yang baru lalu, Microsoft dalam acara Microsoft Worldwide Partner Conference di hadapan lebih dari 9000 Partner, telah merilis versi public beta dari Service Pack 1 untuk Windows Server 2008 R2 dan Windows 7.

    20100808_112802

    Pada awalnya, Service Pack 1 Beta hanya tersedia sebagai satu paket yang mencakup 3 (tiga) arsitektur processor, yaitu IA64, x64, dan x86, membuatnya menjadi kurang praktis karena ukurannya > 1 GB. Divisi Windows Server dengan sigap melakukan antisipasi dengan memecahnya menjadi 3 bagian yang dapat diunduh secara terpisah.

    Bagi yang ingin segera mencoba, dapat mengunduhnya dari link berikut ini:

    1. Download Windows 7 and Windows Server 2008 R2 Service Pack 1 (SP1) Beta.
    2. Documentation for Windows 7 and Windows Server 2008 R2 Service Pack 1 Beta (KB976932).

    Selamat bereksperimen.

    Share this post: | | | |
  • Microsoft Deployment Toolkit 2010 Update 1 - RTM

    Bagi rekan-rekan IT Pro yang pernah mengikuti sesi Windows 7 Deployment Workshop, baru-baru ini Microsoft meluncurkan Microsoft Deployment Toolkit 2010 Update 1 dengan beberapa fitur baru yang cukup menarik tanpa mengurangi fitur-fitur yang sudah pernah ada sebelumnya.

    Jika kita sedang dalam tahap perpindahan ke Windows 7, Windows Server 2008 R2, dan atau Office 2010, kita membutuhkan kakas dan panduan untuk melakukannya dengan baik dan benar. Microsoft Deployment Toolkit 2010, dapat diunduh dengan cuma-cuma atau gratis, adalah kakas yang dibuat untuk memenuhi kebutuhan tersebut. Microsoft Deployment Toolkit 2010 Update 1 memiliki keunggulan-keunggulan:

    Bagi pengguna System Center Configuration Manager 2007:

    • “User Driven Installation” deployment method, atau “UDI” adalah sebuah Wizard yang memungkinkan pengguna melakukan Initiation dan Customization terhadap OS deployment pada PC masing-masing sesuai dengan kebutuhan mereka.
    • Support for Configuration Manager R3 “Prestaged Media”. Jika melakukan deployment Windows 7 bersama-sama dengan Office 2010 pada PC baru, dengan bantuan sebuah custom OS image dari Pabrik, pada saat deployment dapat dilakukan customization sesuai dengan keperluan.

    Untuk Lite Touch Installation:

    • Support for Office 2010. Konfigurasi setting instalasi dan deployment Office 2010 dapat dengan mudah dilakukan melalui Deployment Workbench dan melalui integrasi Office Customization Tool.
    • Improved driver importing. Setiap driver yang diimport akan diseleksi dengan cermat untuk menentukan jenis platformnya guna menghindari masalah pada saat deployment.

    Bagi seluruh pengguna:

    • A smooth and simple upgrade process. Pada saat melakukan instalasi MDT 2010 Update 1, konfigurasi yang sudah ada akan dipertahankan dengan bantuan sebuah wizard yang sederhana.
    • Many small enhancements and bug fixes. Adalah respon langsung dari Microsoft terhadap umpan balik yang diterima dari Partner di seluruh dunia.
    • Continued support for older products. MDT 2010 Update 1 masih tetap mendukung deployment Windows XP, Windows Server 2003, Windows Vista, Windows Server 2008, dan Office 2007 bagi mereka yang membutuhkannya pada saat melakukan deployment Windows 7 dan Office 2010.

    Pastikan untuk mengunduh MDT 2010 Update 1 dari link berikut ini: Microsoft Deployment Toolkit 2010 Update 1.

    Jangan lupa untuk mengunjungi kedua situs berikut ini:

    Situs Microsoft Deployment Toolkit dan Springboard Series on TechNet.

    Selamat melakukan aktivitas deployment!

    Share this post: | | | |
More Posts « Previous page - Next page »